Jumat, 25 September 2009

zona80, Masih Ada


Yang "jadul" atau yang berbau jaman dulu tak melulu berarti basi dan tidak laku. Banyak juga kok, yang rindu dengan suasana masa lalu. Kebutuhan romantisme itu pun diakomodir oleh stasiun televisi.

Bila dahulu Indosiar pernah sukses dengan Tembang Kenangan, kini Metro TV punya Zona 80, Masih Ada (saban Minggu pukul 22.00 WIB). Acara ini cukup unik dan punya penggemar tersendiri.

Seperti judulnya, Zona 80 mengemas acara bernuansa tahun 80-an. Untuk menciptakan atmosfir itu, musik, penyanyi, gaya hidup, trend sampai peristiwa yang popular di era itu diperbincangkan dan ditampilkan. Dekorasi dan pernak-pernik 80-an seperti gaya berpakaian dan potongan rambut turut melengkapi.

Menurut Didik Suryantoro, Ide & Kreatif Metro TV, sebelum tayang perdana di bulan Februaru 2008 lalu, Zona 80 telah menjalani penggodokan secara internal selama dua bulan. Zona 80 layak tayang dengan mengusung konsep mengangkat kembali masa keemasan 80-an dengan menghadirkan para pelaku sejarah seperti musisi dan para artis yang kemungkinan kini sudah jarang tampil. "Padahal di era 80-an mereka sangat jaya," kata Didik.

Makanya, Zona 80 jadi obat rindu buat beberapa mantan artis idola seperti Dian Pramana Poetra, Deddy Dukun, Rafika Duri, Harvey Malaiholo, Vina Panduwinata, Atiek CB, Ikang Fauzi, Trio Libels, Indra Lesmana, Nicky Astria, Conny Constantia, Bob Tutupolli sampai Koes Hendratmo bisa ditemui.
Kenapa harus era 80-an, bukan 60-an atau 70-an? Kata manajer produksi Metro TV, Agus Mulyadi, era 80-an dipilih karena ada kecenderungan kuat sejumlah orang yang "rindu" dengan masa tahun 80-an. "Ini bisa dilihat dengan terbentuknya beberapa komunitas yang mengambil era tahun 80-an sebagai benderanya. Selain itu ada beberapa stasiun televisi yang sesekali memunculkan topik-topik yang berbau tahun 80-an. Itu menarik. Buat kami kenapa tidak dibuat saja sebuah program yang frame-nya tentang tahun 80-an," papar Agus.

Agus menggambarkan, orang-orang yang tumbuh di tahun 80-an punya sudut pandangan yang hampir sama, lantaran tatanan kehidupan dan terpaan media massa yang relatif seragam. "Mereka punya situasi yang sama dalam sistem Orde Baru. Semua yang dilihat dan dirasakan punya kecenderungan yang sama. Hari ini kita nonton (di TVRI) apa, besok kita akan bicarakan yang sama. Sehingga kalau kita mau bicarakan soal tahun 80-an, orang-orang akan bicara dengan angle yang sama, walaupun dalam perspektif yang mungkin yang berbeda. Makanya, membicarakan era 80-an banyak yang menarik" jelas Agus lagi.

Baik Didik maupun Agus tak khawatir kehabisan materi yang dibahas untuk Zona 80. Apalagi acara yang dibawakan oleh Windy Wulandari dan Joe "P Project" ini tak terpaku membicarakan soal musik saja, tapi bisa olahraga, film, kuis, dance, fashion dan lain sebagainya.

Sejauh ini Zona 80 relatif tak kesulitan untuk menghadirkan para artis dari tahun 80-an. Malah mereka menyambut baik dan rindu untuk tampil lagi serta bertemu dengan "teman sejawat". Tapi memang, ada beberapa artis yang belum bisa ditampilkan di Zona 80 terkait dengan kondisinya yang berbeda. Seperti Hari Mukti yang dulu dikenal sebagai rocker yang aktraktif, tapi kini berprofesi sebagai dai.

"Kami memang belum menyambangi Hari Mukti, tapi kami pesimis. Sebab, di mana-mana Hari Mukti bilang tak ingin menyanyi lagi," kata Didik.
"PR" lain adalah mendatangkan Onky Alexander yang di era 80-an amat terkenal sebagai Boy lewat film dan cerita radio Catatan Si Boy. "Selama ini kami kesulitan untuk menghubunginya. Terlalu banyak ‘lapisan' di seputar Onky dan sulit ditembus. Atau mungkin dia memang sudah tak berminat lagi," kata Didik pasrah. Onky kini adalah bapak dari seorang anak, Maharani Ayushanda (11) dan suami dari pengusaha Paula Ayustina Saroinsong.

Kendala lain dalam menghadirkan artis dari era 80-an adalah sosoknya yang tidak seperti dahulu lagi. "Mungkin ada yang badannya sudah mekar. Ada pula yang suaranya sudah kedodoran atau sudah lupa dengan syair lagu yang dibawakan," kata Didik mencontohkan.
Sementara untuk penonton di lokasi syuting, tim Zona 80 tak perlu khawatir, sebab komunitas pencinta tahun 80-an akan setia datang. Bahkan dari kapasitas 100 penonton kini sering melebihi. Selain syuting di studio Metro TV, Zona 80 kadang syuting di outdoor, di lokasi yang amat kesohor buat komunitas 80-an, seperti kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Obrolan Masa Lalu & Masa Kini
Adalah Bayhaki (36), seorang karyawan swasta di Jakarta Selatan, yang aktif dalam komunitas tahun 80-an. Awalnya, di pertengahan tahun 2005 Bayhaki membikin blog tentang angkatan tahun 80-an. Ternyata blog itu mendapat sambutan yang positif dari orang-orang yang seminta dengan Bayhaki.
Sekitar setahun kemudian, Bayhaki dkk membuat milis lapanpuluhan@yahoogroups.com. Milis itu sudah beranggotakan lebih dari 3.400 orang. Banyak yang mereka perbincangkan di milis itu, seperti break dance, Michael Jackson, tempat nongkrong di Melawai, dan tren tahun 80-an lainnya.
Bayhaki dan komunitasnya tak cukup hanya berbincang di dunia maya, beberapa kali mereka mengadakan gathering resmi di beberapa hotel. "Yang terakhir ultah ke dua berdirinya millis pada Juli lalu. Dihadiri oleh Ikang Fauzi, Kenan Nasution dan Niagara Band," ucap Bayhaki. Selain itu, setiap Kamis mereka rutin bermain golf dan sebulan sekali mengisi acara di radio Pro 2 RRI.
Jika bertemu, menurut Bayhaki, mereka tak hanya membicarakan nostalgia masa lalu, tapi juga yang sedang aktual di masa sekarang. Misalnya tentang kenaikan BBM dan biaya sekolah yang melonjak tinggi.
Tentang Zona 80, walaupun tak ada ikatan kerjasama, Bayhaki dan teman-temannya kerap diundang untuk bertukar pikiran dengan pengelola Metro TV, selain undangan menonton di studio. Mereka terpannggil lantaran punya kesamaan emosional dalam memperbincangkan segala sesuatu tentang era 80-an.
Selain orang biasa seperti Bayhaki yang "peduli" dengan masa 80-an, musisi Deddy Dores, mengaku masih punya organisasi yang diisi oleh artis yang tumbuh pada tahun 80-an. Deddy mengetuai Spaindo (Suara Perjuangan Artis Indonesia), sementara Betharia Sonata menjadi bendaharanya.
Sementara Wahyu WHL (pencipta lagu Tenda Biru) dan penyanyi Ria Resti Fauzy, kata Deddy, juga memprakarsai organisasi sejenis. Kegiatan organisasinya menurut Deddy selain bereuni adalah melakukan kegiatan sosial yang berkaitan dengan bencana alam dan sejenisnya.
"Akhir tahun 2007 lalu kami bikin konser di Hotel Sahid Hotel dan diliput Metro TV. Dan sekarang ini kami sering diundang Zona 80 untuk nyanyi," kata Deddy. Meski sudah jarang tampil di televisi, Deddy menyebut artis tahun 80-an masih aktif menerima job menyanyi di daerah-daerah.

M Nizar (Tabloid Nova, Senin, 30 Juni 2008)

Label: , , ,

Zona80, Panggung Generasi Jadul


Oleh : Budi Suwarna

Penyanyi top tahun 80-an kembali ditampilkan di layar kaca. Sebagian penampilannya masih prima, sebagian lagi sudah kedodoran. Ah, penampilan tidak lagi penting. Yang penting, penonton bisa bernostalgia.

Anda yang tumbuh di era itu mungkin masih ingat dengan gaya Titi Qadarsih ketika menjadi penari pengiring lagu-lagu Gombloh. Dia berlenggak-lenggok centil sambil mengerdipkan mata, kemudian bergerak mengelilingi Gombloh yang cuek saja bermain gitar.

Anda juga mungkin masih ingat bagaimana Betharia Sonata dan Nia Daniaty berlinangan air mata ketika menyanyikan lagu- lagu sedih. Sampai-sampai, pemerintah melarang TVRI menayangkan lagu-lagu cengeng seperti itu karena khawatir bangsa ini juga dianggap bangsa cengeng. Apa hubungannya?

Anda yang mengikuti musik dangdut juga tidak akan lupa dengan Rhoma Irama dan Soneta grup-nya. Bahkan, Anda mungkin masih ingat gaya bicara Rhoma yang sering dibuat putus-putus seperti ketika dia berkata, ”Lagu berikutnya berke...lannn...na.”

Nah, semua kenangan itu ditangkap dan dihadirkan lagi di layar kaca dalam acara nostalgia bernama Zona80. Acara tersebut ditayangkan Metrotv sejak tiga bulan lalu, yakni setiap Minggu malam pukul 22.05 dan Sabtu pukul 15.05 (tayang ulang). Hari Minggu (1/6) ini, Zona80 memasuki episode ke-14.

Melalui acara itu, kita bisa melihat lagi aksi Titi Qadarsih menari dengan koreografi dan gaya centil seperti dulu. Kostumnya pun dibuat dengan gaya 80-an. Hanya saja, karena Gombloh telah almarhum, perannya digantikan John Dayat, pemenang lomba mirip Gombloh.

Obbie Messakh

Artis jaman dulu (jadul) yang juga tampil di Zona80, antara lain, Ari Wibowo dengan hit-nya Madu dan Racun, Endang S Taurina dengan Apa yang Kau Cari, Betharia Sonata dengan Hati yang Luka, Obbie Messakh dengan Kisah Kasih di Sekolah, dan duet maut Rhoma Irama dan Rita Sugiarto dengan Malam Terakhir.

Production Manager Metrotv Agus Mulyadi, Kamis (29/5), mengatakan, Zona80 berusaha menghadirkan kenangan era 80-an secara utuh dengan segala kemeriahan dan kenorakannya. Untuk itu, pihaknya sedapat mungkin memerhatikan detail. Mereka menghadirkan lagu-lagu jadul dengan aransemen seperti asli termasuk sound effect-nya.

Kostum penyanyi dan penari latar juga dibuat sesuai gaya 80-an, seperti baju bertangan gembung, ikat kepala, dan celana yang gombrong di bagian atas dan sempit di bagian bawah. Bahkan, koreografinya pun meniru gaya 80-an, seperti gerakan tangan menggulung benang.

Satu yang tidak bisa dilakukan Zona80 adalah membuat artis-artis jadul itu kembali tampak imut-imut seperti 20 tahun yang lalu. Maklum, mereka sudah memasuki usia om-om dan tante- tante. Bahkan, sebagian sudah menjadi simbah.

Dengan format seperti itu, Zona80 menjadi tontonan menarik, khususnya bagi orang-orang yang tumbuh di era itu. Lewat acara itu, mereka bisa menemukan jejak masa mudanya bersama para artis yang juga tumbuh di periode yang sama.

Lewat acara itu, mereka bisa menertawakan penampilan generasinya yang untuk ukuran sekarang mungkin agak norak. ”Setiap kami menayangkan video atau foto artis jadul, penonton di studio langsung tertawa dan berkata, ’lucu banget dulu ya’,” kata Didik Suryantoro, penggagas ide acara Zona80.

Zona80 ini sebenarnya merupakan bagian dari fenomena kebangkitan kembali era 80-an dalam jagat hiburan satu-dua tahun belakangan ini. Tengok saja CD dan kaset berisi kompilasi lagu- lagu lama bermunculan, lagu-lagu disko klasik diputar lagi di klub-klub dan radio, konser penyanyi dan grup jadul seperti Duran Duran dan Skidrow pun laku dijual.

Kenangan era 80-an memang begitu lekat bagi mereka. Itulah era di mana kebanyakan anak- anak muda mendapat pengalaman yang nyaris sama. Mereka sama-sama menonton film Boneka Si Unyil, sama-sama diharuskan ikut Senam Kesegaran Jasmani di sekolah, dan sama-sama mengalami demam breakdance (tari kejang) sambil membopong tape besar. (Kompas, Sabtu, 26 September 2009)

Label: , , , ,

Rabu, 22 April 2009

ZONA80 MEMANG MASIH ADA


Sejak pertama kali ditayangkan Metro TV pada awal Maret 2008, Zona80 hingga saat ini masih terhitung eksis. Kalau mau dihitung hitung, setidaknya Zona80 sudah menjumpai penggemarnya sebanyak 48 episode. Sebuah catatan tersendiri bagi perjalanan sebuah program ’jadul’ (jaman dulu) yang sangat segmented. Perlu diketahui, Zona80 sudah kadung membawa era 80 di nama program, sehingga sangat sulit menghadirkan tema tema yang ke luar dari era 80. Ini sebuah kekuatan sekaligus kelemahan. ”Kekuatannya terletak pada era yang sangat specifik sehingga bisa menjadi frame work ketika diskusi creative dilakukan. Tetapi kelemahannya adalah, kita tidak bisa menyimpang dari era 80-an, meleset sedikit aja, yang protes banyak,” ungkap Didik Suryantoro, penggagas zona80.

Dalam perjalanannya, Zona80 mau tidak mau harus mengembangkan diri. Konsekuensi logis sebuah program yang ingin terus diminati. Hanya saja ketika dinamisasi program ingin dilakukan, kerap terbentur dengan artis artis jadul yang tidak diketahui jati dirinya. Jika sebatas data, mungkin bisa didapatkan dengan mudah. Namun ketika harus dihubungi, kesulitannya adalah tidak tahu ke mana harus menghubungi. Kalaupun bisa dihubungi, biasanya mereka sudah memagari diri untuk tidak ingin tampil lagi di panggung hiburan. ”Ini kendala yang cukup mengganggu. Di satu sisi kami ingin mewujudkan keinginan pemirsa, namun di sisi berbeda sang artisnya malah sudah tidak ingin tampil lagi,” ujar Agus Mulayadi Manager Departement Produksi Metro TV.

Kendala kendala itu memang diakui menjadi tantangan tersendiri bagi penggagas creative Zona80. Maka segala carapun akan diupayakan untuk sedikitnya menjelaskan pada pemirsa Zona80 seputar artis artis 80an yang sudah tidak mungkin lagi tampil di Zona80. Untuk mengakomodir kerinduan pemirsa Zona80 terhadap artis artis 80an yang tidak mungkin tampil di Zona80, dalam waktu dekat akan dibuatkan segment ’Kabar Mereka’. ”Kabar Mereka akan berisi artis artis 80an yang tidak bisa tampil lagi di Zona80. Kami akan beri kabar mereka mengapa tidak ingin atau tidak mau tampil lagi di dunia hiburan,” papar Didik.

SEGMENT YANG LUAS

Saat Zona80 hadir di Metro TV, banyak kalangan yang mengklaim diri sebagai angkatan 80. Sementara jika mau dibedah lebih rinci lagi, ada banyak generasi yang ada di era 80. Sebagai sebuah misal, pada saat breakdance merajalela di era 80, kita sedang berusia berapa. Apakah SD, SMP, SMA atau malah sudah duduk di bangku kuliah. Begitupun misalnya ketika film Catatan si Boy, Ranjau Ranjau Cinta-nya Rano Karno atau boomingnya lagu lagu melankolis yang dibawakan Christien Panjaitan, Iis Sugianto, Dian Pisesa, kita sedang berusia berapa? Kelihatannya sepele, namun hal hal seperti itu ternyata sangat mempengaruhi penampilan creative Zona80. Yang jelas, sulit bagi Zona80 mampu mengakomodir semua keinginan pemirsa jika hanya melihat dari satu episode saja, meski semua mengaku angkatan 80. ”Oleh karena itu, kami mensiasatinya dengan kemasan yang berbeda dari satu episode ke episode yang lain. Tujuannya ya agar bisa melayani mereka yang mengaku angkatan 80 namun sesungguhnya mereka beda generasi,” ungkap Didik lagi.

Beberapa dinamisasi creative yang sudah dilakukan Zona80 hingga saat ini sebenernya sudah mulai terlihat. Coba saja tengok pada pembawa acaranya. Jika di awal pemunculannya Zona80 hadir dibawakan dua generasi yang berbeda, kini sudah tampil dari satu generasi yang sama. Awal sekali Zona80 muncul dengan Windy Wulandari dan Krisna Purwana, kemudian Windy Wulandari dan Joe P. Project, kemudian Joe P. Project dengan Ida Arimurti dan yang sekarang berjalan adalah Ida Arimurti dan Sys NS. ”Kombinasi pembawa acara yang terakhir inilah yang akhirnya dianggap paling pas dan bisa mencerminkan program Zona80,” tutur Agus Mulyadi.

Selain perubahan pada pembawa acara, set design-pun telah mengalami perubahan. Kalau masih ingat, dulu Zona80 tampil dengan set design zero level. Artinya, antara penampil dan audience sejajar dengan posisi kamera. Sedangkan untuk sekarang, posisi artis penampil diletakkan lebih tinggi dari audience. ”Sesungguhnya hal ini lebih ingin mengakomodir persoalan teknis, karena begitu semua audience berdiri untuk berjoget misalnya, artisnya justru ketutupan audience dan kamera sulit untuk menangkap keberadaan artis,” tambah Agus lagi.

PERUBAHAN FORMAT

Dalam waktu dekat, Zona80 kembali akan melakukan sedikit perubahan format tayangannya. Meski diakui tidak terlalu besar besaran, namun mudah mudahan sedikit perubahan ini bisa membuat suasana lebih segar dari sebelumnya. ”Kemungkinan pertama pada set artistik dan kemasan magazine. Perubahan ini akan terasa jika disaksikan dalam rentang waktu satu bulan secara berturut turut,” ungkap Didik yang mengaku terus mengulik agar Zona80 bisa diterima semua kalangan.

Perubahan creative lain juga akan terasa saat Zona80 merayakan ulang tahunnya yang pertama. Di sana dijanjikan akan menampilkan artis artis 80an dengan penampilan yang berbeda. Kolaborasi artis 80 dengan membawakan lagu lagu 80 namun tidak membawakan lagunya sendiri. ”Ya.. ini terobosan creative yang coba kita lakukan untuk menjajal sejauh mana pemirsa bisa menerima tingkat kenakalan creative Zona80,” ujar Agus Mulyadi.

Apapun perubahan yang dilakukan tim creative Zona80, sesungguhnya tidak lain untuk mengakomodir keinginan pemirsa yang cukup beragam karena hadir dari generasi yang berbeda. Pendek kata, Zona80 memang masih ada untuk kembali membawa kenangan dan cerita 80an ke masa kini. Sebuah reinkarnasi creative yang lahir dari sebuah keinginan mengenang masa lalu. (***)

Label: , , ,